Teori Pembentukan Bumi & Tata Surya

Mari mengenal bumi & tata surya terlebih dahulu. Bumi itu apa sih? 

Bumi adalah bagian dari tata surya di alam semesta yang merupakan planet ketiga dari matahari setelah Merkurius dan Venus. Bumi juga merupakan satu satunya planet yang dapat ditinggali makhluk hidup seperti manusia dan lainnya. Selain bumi, belum ada tanda tanda planet lain yang di dalamnya terdapat makhluk hidup. 

Jadi, pernakah kalian berpikir, bagaimana bumi dan planet lainya bisa terbentuk?, tidak mungkinkan jika tata surya atau benda benda di langit memang sudah ada sejak awal, pasti ada prosesnya yang mungkin memerlukan waktu berjuta-juta hingga bermilyar tahun. 

Seperti yang akan kita bahas. Alam semesta memiliki awal mula bagaimana terbentuknya sebuah tata surya salah satunya planet bumi. Para ilmuwan tidak bisa meneliti atau menguji secara langsung bagaimana bumi terbentuk, jadi para peneliti hanya mengamati, dan membuat hipotesa atau teori bagaimana proses bumi dan tata surya terbentuk. 

Saat ini terdapat 6 teori terbentuknya bumi di alam semesta yaitu Kabut Nebula, Planetesimal, Pasang surut gas, Big bang, Bintang Kembar, dan Awan Debu. Lantas, apa pengertiannya?

Teori Pembentukan Bumi & Tata Surya

Kabut Nebula

Teori Nebula dikemukakan oleh dua ilmuwan, yakni Immanuel Kant (1753) dan Petere de Laplace (1796). Teori Nebula (kabut) biasa disebut juga dengan teori "Kant-Laplace"

Teori ini memaparkan "bahwa langit dan tata surya berawal dari kabut. Kabut tersebut mengandung gas panas (hidrogen). Suatu waktu, kabut tersebut berproses dan berputar dengan sangat kencang. Jika digambarkan mungkin seperti pusaran angin. Kemudian terbentuklah bulatan besar, seperti cincin-cincin yang memiliki gaya gravitasi, yaitu matahari. Sebagian cincin-cincin ini kemudian terlempar ke luar dan terus berputar hingga mengalami pendinginan, hingga akhirnya terbentuk gumpalan gumpalan bola dan menyusut membentuk planet - planet termaksuk bumi yang mengelilingi matahari." 

Planetesimal 

Teori planetesimal dikemukakan oleh Forest Ray Moulton & Thomas.C Chamberlin (1905). Teori ini memiliki anggapan tata surya ini berasal dari kabut. Namun, berbeda dengan teori Kant-Laplace yang menyatakan terdapat gumpalan kabut berbentuk bola. 

Chamberlin & Moulton menyatakan "Bahwa gumpalan kabut yang membentuk tata surya berbentuk pilin atau spiral hingga akhirnya terbentuklah kabut pilin. Kabut pilin ini sendiri terdiri dari butiran material yang disebut sebagai "planetesimal" yang setiap diantaranya memiliki lintasan orbit bebas hingga pada akhirnya terjadilah tumbukan antara planetisimal. Dikarenakan tumbukan yang berulang serta gaya gravitasi, terjadilah penumpukan planetesimal hingga menjadi gumpalan lebih besar. Gumpalan terbesar ini sendiri berpusat di kabut pilin hingga pada akhirnya menjadi matahari, sementara gumpalan-gumpalan yang lebih kecil kemudian menjadi planet-planet yang kemudian berevolusi mengelilingi matahari."

"Matahari terdiri dari gas dengan massa besar. Kemudian didekati oleh bintang lain yang melintas dengan kecepatan tinggi di area sekitar matahari. Pada saat bintang melintas di dekat matahari dengan jarak yang dekat, sebagian massa gas matahari kemudian tertarik ke luar akibat gravitasi dari bintang yang melintas tersebut. Sebagian dari massa gas ini berputar mengelilingi matahari karena gravitasinya sementara, sebagian lainnya tertarik ke luar lintasan bintang. 

Setelah bintang melintas dan berlalu, massa gas yang berputar kemudian mengelilingi matahari kemudian menjadi dingin dan terbentuklah planetisimal atau suatu cincin yang lama-kelamaan menjadi padat. Beberapa planetisimal yang terbentuk kemudian akan saling tarik – menarik dan bergabung menjadi satu hingga kemudian membentuk suatu planet, termasuk diantaranya planet Bumi."

Pasang Surut Gas (Tidal)

Teori Pasang Surut Gas atau dikenal "Teori Tidal" dikemukakan oleh James Jeans & Harold Jeffreys (1918), Inggris. Tata surya berasal dari materi matahari yang kemudian bertabrakan dan terlempar ke sebuah komet. 

Teori ini kemudian dilanjutkan pada tahun 1919, Jefferys dan Jeans ini menyatakan pendapat "Bahwa sebuah bintang besar yang mendekati Matahari akan menyebabkan efek pada kabut Matahari, yaitu efek pasang. Bintang besar ini kemudian menimbulkan kekuatan yang dapat menarik dan melepaskan (tarik-menarik) ke arah luar massanya yang sebagian kepada Matahari, hingga akhirnya berputar, pecah dan mendingin perlahan membentuk satelit dan planet - planet seperti sekarang ini."

Big Bang (Ledakan Besar) 

Big Bang merupakan ledakan besar galaksi yang terjadi di alam semesta. Galaksi merupakan kumpulan dari planet, bintang, gas, debu, nebula, dan benda langit lainnya, atau dikenal dengan tata surya.

Teori Big Bang atau dikenal "Ledakan/dentuman besar/dahsyat" merupakan salah satu teori yang paling terkenal dan dianggap kebenarannya. Teori ini pertama kali diusulkan oleh Georges Lemaitre tahun (1927), BelgiaIa menganggap "Bahwa alam semesta dimulai dari satu titik, kemudian mengembang menjadi besar secara terus menerus sehingga menjadi alam semesta sekarang"

Teori Big Bang ini menjelaskan "Awalnya alam semesta berupa gumpalan kecil yang semakin lama semakin padat dan sangat panas, gumpalan tersebut terus mengembang, kemudian meledak dan membentuk seluruh materi di alam semesta". Alam semesta akan terus berkembang hingga sekarang

Bintang Kembar

Teori Bintang Kembar dikemukakan oleh seorang ahli astronomi Inggris R.A. Lyttleton (1930). Teori ini sendiri menyatakan "Matahari dahulu diduga memiliki sebuah bintang sebagai kembarannya. Bintang yang menjadi kembaran Matahari itu kemudian meledak yang mengakibatkan terlemparnya sejumlah partikel. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang kedua kepingnya kemudian bergerak mengelilingi bintang hingga pada akhirnya menjadi planet. 

Sementara bintang yang tak meledak adalah matahari. Partikel yang terlempar ini kemudian menjadi dingin dan membentuk planet beserta satelit yang mengelilingi Matahari. Teori ini sendiri memiliki kekurangan berdasarkan analisis matematis yang dilakukan oleh para ahli dan menunjukan  momentum anguler pada sistem tata surya saat ini hingga kemudian menghasilkan peristiwa tabrakan dua  bintang."

Awan Debu (Proto Planet)

Teori Awan Debu di kemukakan oleh Carl Friedrich Von Weizsacker (1940), Jerman. Ia mengatakan "Bahwa mulanya tata surya terdiri dari matahari yang dikelilingi oleh massa berbentuk kabut gas, sebagian besar massa kabut terdiri atas unsur ringan diantaranya hidrogen dan helium. Karena panas matahari yang sangat tinggi, kemudian unsur ringan tersebut menguap ke angkasa. Sementara unsur berat tertinggal dan menggumpal yang kemudian akan menarik unsur lain di tata surya, selanjutnya berevolusi membentuk planet termaksuk bumi."

Teori pembentukan bumi ini disempurnakan oleh Gerald P.Kuiper (1950) yaitu "Terdapat sebuah nebula besar berbentuk piringan cakram. Pusat piringan ini merupakan protomatahari, sementara massa gas yang berputar mengelilingi protomatahari disebut sebagai protoplanet. Pada teorinya, ia memasukan berbagai unsur – unsur ringan diantaranya helium dan hidrogen. Pusat piringan ini sendiri merupakan protomatahari yang menjadi sangat panas, sementara sebaliknya protoplanet kemudian menjadi dingin dan mulai menguap serta menggumpal menjadi planet."

Dalam teori terbentuknya tata surya ia mengatakan "Matahari dan planetnya yang berasal dari kabut gas. Kabut gas ini sendiri tersebar tipis-tipis di angkasa dalam jumlah banyak. Karenanya pengaruh gaya tarik antarmolekul dalam kabut gas tersebut, perlahan-lahan kabut ini kemudian menjadi gumpalan yang padat. Keadaan ini sendiri disebabkan oleh gerak gas yang berputar dengan tidak beraturan pada kumpulan kabut. Namun, gerak ini kemudian menjadi perlahan dan berputar yang memadatkan dan memipihkan kabut. Salah satu gumpalan yang mengalami pemampatan di tengah, sementara gumpalan yang kecil kemudian hanyut di lingkungan sekitarnya. Gumpalan di tengah inilah yang kemudian kita ketahui sebagai Matahari."


Komentar